Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 4

Metode ketiga : Teknik The Illusion of Depth (Ilusi Kedalaman Sejarah)

Salah satu faktor yang membuat pembaca merasa berat ketika menutup halaman terakhir The Lord of The Rings. Adalah kesan mendalam bahwa Middle earth telah ada jauh sebelum Frodo Baggins lahir. Dan terasa akan terus berjalan bertahun-tahun setelahnya, bahkan setelah sang karakter utama pergi. Maksudnya pembaca merasa masih ada banyak bagianbagian yang tidak dibahas oleh Kakek Tolkien dalam narasi tersebut. Seolah-olah seperti cucu kita di masa depan nanti, saat membaca diary buku kita di tahun 2026.

Saat ini kita mungkin sebal dengan kenyataan bahwa ayah atau ibu kita masih sering menyetel radio berisi lagu-lagu jadulnya. Hingga saking kesalnya kita menulis salinan salah satu liriknya, ataupun menulis sambil lalu judulnya dengan tulisan bernada sarkas. Tapi kemudian saat puluhan tahun setelahnya, saat cucu kita tersebut entah bagaimana membaca diary kita. Lalu sampai pada bagian unek-unek kita terkait kebiasaan ayah dan ibu kita dulu. Cucu kita pasti akan sangat penasaran dengan lirik lagu atau judul lagu yang dulu kita tulis dengan ogah-ogahan itu.

Dan saat kecanggihan teknologi hanya mampu mempertahankan rekaman di tahun 2000 an keatas. Dimana lagu-lagu jadul yang kita sindir barusan sayangnya sudah tidak ada. Mereka setidaknya akan punya sedikitnya rasa rindu dan kepercayaan. Bahwa jauh sebelum mereka lahir, dunia ini sudah berjalan sesuai jamannya.

Hebatnya kalau contoh kasus yang kusebutkan diatas perlu puluhan tahun untuk terjadi. Kakek Tolkien melakukannya hanya dengan manipulasi naratif berlapis. Yang akademisi sebut sebagai The Illusion of Depth (Gunung di Kejauhan).

Untuk melakukannya Kakek Tolkien meniru struktur dan retorika dari para pencipta epos purba. Misalnya seperti Homeros dalam epik Iliad, atau penulis anonim dari Beowulf dan Snorri Sturluson. Jadi para penyair ini memposisikan penonton mereka seolah-olah sudah akrab dengan silsilah raja-raja, dan pahlawan dewa yang diutarakan. Dalam adaptasinya menggunakan metode ini, Kakek Tolkien terus menerus menaburkan nama, lokasi reruntuhan, tambang elegi kuno, dan konflik epik masa lalu.

Supaya tidak terkesan seperti menceramahi dan membuat pembaca membaca buku pelajaran sejarah yang membosankan. Kakek Tolkien melakukannya dengan cara memasukkan elemenelemen itu sebagai obrolan sehari-hari, atau nyanyian yang tidak diberikan penjelasannya secara menyeluruh.

Sebagai contoh, para karakter sering sekali menyebut kehancuran tragis kota legendaris Gondolin. Hingga membandingkan takdir pahit mereka dengan kutukan yang menimpa Turin Turambar.

Walau memang Kakek Tolkien tidak hanya menyebut mereka di latar belakang, dan menyelesaikannya menjadi 1 narasi utuh menjadi The Silmarillion. Efek sastrawi dari penyinggungan hal-hal ini, memicu keingintahuan dan sensasi melankolis yang luar biasa bagi pembaca. Mereka merasa ilusi kedalaman historis ini membuat mereka percaya, bahwa dunia buatan Kakek Tolkien terasa tak terbatas.

Ilusi kedalaman tersebut diperkuat lagi oleh Kakek Tolkien melalui pemanfaatan perangkat discovered manuscript topos (topos naskah temuan). Maksudnya bagi Kakek Tolkien, The Lord of the Rings atau Middle earth bukan dianggap sebagai tulisan modernnya. Tapi beliau menganggapnya sebagai arsip kuno, dimana ia bertindak bukan sebagai penulisnya namun sebagai penerjemahnya.

Format topos naskah temuannya ini, menguntungkan Kakek Tolkien karena secara brilian menutupi berbagai kontradiksi. Seperti misalnya bias cerita, anomali geografis, atau keterbatasan wawasan tokoh yang mencatat.

Bagi yang masih bingung dengan penjelasan sebelumnya. Itu maksudnya dengan format naskah temuannya, Kakek Tolkien bisa berkilah kalau ada bagian yang kurang konsisten. Misalnya kalau ada informasi yang disebutkan suatu tokoh, dan faktanya berbeda atau menurut karakter lain informasinya berbeda. Kakek Tolkien bisa berkilah bahwa itu adalah akibat, dari kesalahan penyalinan informasi secara turun-temurun dalam dunia tersebut.

Terakhir, sebagai penutup dari pembahasan metode ketiga ini. Sama seperti bagian sebelumnya, aku akan setidaknya menyederhanakan pembahasan. Sehingga dari sini bisa diambil tips-tips yang bisa kita tiru metodenya. Dan semoga saja isinya cukup relevan bagi kita para penulis modern.

Jadi demi merakit ilusi epik semacam ini dalam karya orisinal. Kita sebagai penulis perlu merancang setidaknya 5 atau lebih legenda besar. Termasuk kejadian masa purba yang membentuk realitas politik dan topografi dunia cerita. Kemudian sebagai poin wajib, jangan pernah memasukkan keseluruhan penjelasan hal-hal tersebut kedalam draf naskah utama. Sebagai gantinya, referensikan legenda-legenda tersebut melalui benda pusaka yang sudah kusam, nyanyian orang random, atau pepatah lokal yang akar sejarah aslinya sudah dilupakan masyarakat.

Lapisan ketidaktahuan yang disisakan untuk dieksploitasi mandiri pembaca tersebut. Akan menciptakan gema kedalaman sejarah, yang beresonansi lebih kuat. Daripada metode eksposisi deskriptif yang menyuapi segala fakta, layaknya buku pelajaran atau ensiklopedia.

Sebelumnya

Selanjutnya

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 4"