Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 3

Metode kedua : Konsep Sub-creation dan Konsistensi Internal

Kakek Tolkien membongkar pandangan sastra tradisional yang menganggap fantasi sebagai pelarian kekanak-kanakan yang menuntut suspension of disbelief (penangguhan ketidakpercayaan pembaca secara sukarela). Beliau lebih memperkenalkan kerangka konseptual yang menuntut pastisipasi aktif dari kreativitas manusia. Partisipasi aktif kreativitas manusia tersebut beliau namakan Sub-creation. Sementara efek psikologis yang ditimbulkannya pada pembaca disebut Secondary Belief.

Kakek Tolkien meyakini bahwa karena manusia adalah ciptaan dari Sang Pencipta Utama (yang karyanya disebut Primary Art). Maka dorongan bawaan manusia untuk menceritakan kisah dan menciptakan dunia fiktif. Adalah bentuk peneladanan spritiual terhadap penciptaan mula-mula tersebut. Menurut keyakinannya penulis yang beroperasi dalam metode tersebut, tidak bisa disebut sebagai penipu atau sekedar penghibur. Melainkan penulis tersebut menjadi sub creator (sub-pencipta) yang mengambil elemen-elemen dari dunia nyata. Untuk selanjutnya membongkarnya dan merakitnya kembali kedalam pola-pola dan realitas alternatif.

Untuk mencapai keberhasilan dalam sub-creation, narasi diyakini harus membangkitkan Secondary Belief (kepercayaan sekunder) dalam benak pembaca. Demi mengilustrasikan pendapat ini supaya lebih jelas, Kakek Tolkien memisalkannya dengan analogi Matahari berwarna hijau. Menurutnya siapapun mudah sekali menulis kalimat klaim bahwa matahari berwarna hijau. Namun demi menciptakan sebuah Secondary Belief, keberadaan matahari tersebut haruslah kredibel secara mendalam. Maksudnya jika penulis berani menyebutkan dalam suatu hasil tulisnya bahwa matahari di dunia tersebut berwarna hijau. Penulis tersebut harus bertanggung jawab untuk menjelaskan bagaimana matahari itu mempengaruhi seluruh rantai ekologi, iklim, dan adaptasi makhluk hidup yang terdampak.

Jika misalnya penulis gagal mempertahankan kredibilitas ini yang bisa kita sebut sebagai hukum internal dunia cerita. Misalnya ternyata matahari hijau tersebut sama efeknya dengan matahari kita di dunia nyata. Dan tidak memberi efek tambahan apapun selain mungkin di sisi warna. Pembaca akan kehilangan Secondary Belief dan seketika terlempar kembali ke realitas dunia primer. Singkatnya pembaca akan mulai tersadar bahwa mereka hanya sedang membaca sebuah karya fiksi yang dipenuhi inkonsistensi. Jika dibandingkan dengan dunia nyata yang ditinggali sekarang.

Dedikasi Kakek Tolkien terhadap Secondary Belief paling nampak melalui obsesinya terhadap logistik, kronologi, dan geospasial Middle earth. Beliau tidak memanipulasi ruang dan waktu hanya berdasarkan kebutuhan plot. Ia beroperasi dengan menggunakan serangkaian peta topografi yang digambar dengan tangan. Aktivitas ini memungkinkan perhitungan skala jarak yang nyata.

Ahli geografi kartografi Karen Wynn Fonstad dalam analisisnya membuktikan bahwa Kakek Tolkien, menghitung waktu tempuh karakter berdasarkan estimasi panjang langkah yang masuk akal. Masuk akal disini maksudnya itu disesuaikan dengan proporsi fisik ras yang berbeda, seperti Hobbit, Manusia, atau Kurcaci. Salah satu contoh dari penerapan hal ini tercermin dalam perjalanan Frodo Baggins dan Samwise Gamgee dari wilayah The Shire menuju kawah Mount Doom. Kalkulasi jarak perjalanan fiktif tersebut dapat dipastikan di rentang 1700 hingga 1800 mil. Dasar angka ini mempertimbangkan pergerakan keduanya yang melintasi medan bergunung, rawa, dataran rumput, stamina, pasokan logistik, hingga hambatan-hambatan yang dihadapi. 

Selain itu Kakek Tolkien juga menciptakan dokumen yang ia sebut skema waktu sinoptik. Dimana isinya adalah sebuah spreadsheet primitif yang berisi daftar grid hari, tanggal, dan lokasi. Fungsi dari spreadsheetnya ini tidak lain dan tidak bukan, demi melacak posisi puluhan karakter yang terpencar ke berbagai arah angin di saat yang bersamaan. Sehingga dalam penulisannya, beliau dapat memastikan bahwa ketika Aragorn melihat kearah langit di wilayah Rohan. Kondisi cuaca dan iluminasi angkasa kongruen dengan apa yang Frodo alami di dataran Mordor.pada jam yang sama.

Puncak dari konsistensi tingkat molekuler ini terjadi saat beliau menerapkan kronologi fase bulan. Kakek Tolkien sadar bahwa para pelancong di era pra-industrial sangat bergantung pada pencahayaan malam. Makannya beliau merancang pergerakan bulan di Middle earth dengan mengadopsi fase bulan di dunia nyata tahun 1941 hingga 1942. Hasilnya setiap deskripsi tentang bulan dalam teks, entah itu bulan sabit awal hingga ketiadaan bulan sama sekali. Menjadi sesuai secara astronomis dengan jumlah hari yang telah berlalu di kalender fiktif Shire Reckoning.

Ngomong-ngomong ini bahkan belum membahas lebih lanjut soal hitung-hitungannya Kakek Tolkien mengenai konversi ekuivalensi, antara waktu surgawi para dewa dengan detik manusia bumi dengan resolusi desimal. Kalkulasinya mengenai pergeseran waktu, dan konversinya mengenai waktu dari penciptaan alam semesta fiktifnya yang rumit inilah, yang menciptakan fondasi beton bagi Secondary Belief di karya-karyanya.

Dari membaca hal-hal yang akhirnya kuringkas seperti pembahasan diatas, setidaknya ada beberapa yang bisa ditiru demi mendapatkan pesona Secondary Belief yang mirip-mirip. Jadi walau aku pribadi agak ragu-ragu apakah sebenarnya ada yang bisa kita tiru atau tidak. Mengingat totalitas Kakek Tolkien dalam menyusun naskahnya agak gila, dalam artian positif. Mari langsung masuk saja ke pembahasan yang sedikit-sedikit nyantol di kepalaku. Pertama, kita sebagai penulis harus merangkap profesi sebagai ahli kartografi dan logistik bagi dunia yang kita buat. Contoh kecilnya, hindari penyelesaian kendala jarak tempuh jauh dengan memunculkan sistem transportasi ajaib secara mendadak jika itu tidak pernah diatur dalam premis dasar sejak awal. Susun sebuah panduan yang mendefinisikan batas absolut dari teknologi, biologi, dan iklim dari cerita yang kita buat.

Kedua, implementasikan tabel kronologi silang ketika memisahkan rombongan karakter. Ini sangat berguna untuk memastikan matahri terbit dan terbenam secara konsisten pada hari yang sama dari berbagai posisi. Intinya kita harus teliti dalam memperlakukan hukum fisika dan temporal sekunder. Sehingga cerita kita bisa mengunci kesetiaan alam bawah sadar pembaca.

Sebelumnya

Selanjutnya

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 3"