Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 5
Metode keempat : Struktur Narasi Interlacing dan Variasi Gaya Prosa Lingustik
Dalam The Lord of the Rings meskipun panggung narasinya seperti Middle earth dibuat dengan sangat detail dan masif. Mesin penggerak narasinya sangatlah ritmis dan manipulatif secara psikologis. Hal ini dikarenakan Kakek Tolkien mengeksekusi ceritanya dengan teknik sastra epik purba, serta pemodulasian gaya prosa. Demi mencerminkan hierarki umur dan ras dari fokalizer karakter.
Jadi menyusul perubahan rencana di persaudaraan pembawa cincin di akhir bagian pertama. Kakek Tolkien meninggalkan struktur perjalanan linear, dan mulai mengadopsi struktur asrsitektural yang kompleks. Nah arsitektur ini bisa disebut sebagai entrelacement atau interlacing (untaian silang).
Teknik yang digunakan oleh Kakek Tolkien tersebut merupakan warisan penulisan epik dari sastra Roman Prancis abad pertengahan. Dalam praktiknya menggunakan interlacing ini, nasib kelompok persaudaraan dipotong dan dijajarkan dalam susunan blok yang tebal. Beliau melakukan isolasi pada karakter yang berada di medan tandus, dalam buku 4 dan 6. Jauh dari narasi perang makro dalam buku 3 dan 5.
Pendekatan yang bisa disebut juga kronologis lompat katak (leapfrogging) tersebut. Dirancang demi mengurung pembaca kedalam ruang pengetahuan yang terbatas. Persis seperti ketidaktahuan tokoh-tokohnya terhadap tokoh lain yang berbeda tempat.
Akibatnya metode ini memproduksi tingkat ketegangan emosional dan cliffhanger yang ekstrem. Kemudian karena cerita menolak untuk bergerak melintasi geografi dengan penyuntingan potong cepat, layaknya skenario film modern. Pembaca dipaksa menelan kebingungan yang otentik.
Ada momen dalam The Lord of the Rings yang memberikan demonstrasi atau contoh untuk metode ini. Tapi berhubung aku tidak ingin terlalu membocorkan banyak adegan film atau bukunya. Maka aku akan coba cari padanan lain.
Ini lebih seperti ada cerita 4 orang yang berbagi tugas untuk menyelesaikan masalah. Nah awalnya mayoritas dari mereka tidak setuju dengan ide tersebut. Karena alih-alih dibagi menjadi 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 orang. Salah satu orang malah mengusulkan bahwa dia akan maju seorang diri untuk membereskan masalah 1. Sementara 3 lainnya akan membereskan masalah 2. Disertai perdebatan panjang di bidang manapun, entah bagaimana semua orang akhirnya mau membagi kelompok seperti itu.
Disini dimulailah metode pendekatan Kakek Tolkien yaitu leapfrogging. Beliau demi bisa menceritakan 2 kelompok yang beda jalan tersebut secara lengkap. Ditempatkanlah kisah mereka dalam buku berbeda. Orang yang solo party di buku 4 dan 6, sementara kisah 3 orang lainnya di buku 3 dan 5.
Ketegangan emosional (suspense) serta cliffhanger ekstrem akhirnya terjadi, saat tiba-tiba kelompok berisikan 3 orang, mendapati salah seorang musuh melemparkan baju penuh darah dari temannya yang memilih jalan sendirian sebelumnya.
Karena katakanlah kisah perjalanan orang yang solo party terhenti di buku 4, dalam keadaan dia sedang mundur akibat kualahan dan kelelahan menghadapi musuh banyak. Adegan selanjutnya di buku 5 dimana salah satu musuh melempar bajunya yang bersimpah darah. Membuat 3 temannya dan bahkan pembaca sama-sama syok, dan mengalami kengerian psikologis.
Mereka tidak tahu saja bahwa sebenarnya baju itu terlepas waktu dia menghadapi banyak musuh. Dan banyaknya darah di baju merupakan darah dari banyak musuh yang telah si solo party bantai. Yang mana fakta ini kemudian baru ditunjukkan waktu cerita di buku 6 berjalan. Melewati buku 5 yang berisi kepasrahan, dan kesedihan teman-temannya yang berpikiran hal lain.
Menyeberang ke variasi Gaya Prosa Lingustik, ilusi realitas dunia sekunder yang sudah dibuat Kakek Tolkien jadi lebih diperkuat lagi. Caranya adalah beliau mengganti lensa suara narator berdasarkan latar belakang budaya pihak yang sedang difokuskan. Misalnya dalam bab-bab yang melalui sudut pandang bangsa Hobbit. Gaya prosa yang digunakan Kakek Tolkien terkesan modern, familiar, dan bersahaja. Pilihan linguistik ini menjadikan Hobbit sebagai mediator rasional yang memungkinkan pembaca modern, dapat masuk dengan nyaman kedalam cerita fantasi yang berisi bangsa lain.
Kebalikan dari Hobbit, lensa narasi waktu bersentuhan dengan bangsa peri, kurcaci, dan lainnya. Struktur kebahasaannya lebih merangkak ke struktur bahasa yang tinggi dan agung. Seperti percakapannya terkesan puitis, bernubuat masa depan, dan minimnya bahasa kontemporer. Kemudian pada penggambaran penunggang kuda Rohan, yang secara literal menyalin konstruksi metrik puitis masa Anglo Saxon. Ucapan mereka mengandalkan frasa yang berdentang keras, sarat dengan istilah ratapan elegi atas hari yang telah mati, dan sekaligus membawakan epos kepahlawanan kuno suku Jermanik.
Lebih lanjut masih ada banyak lagi simbolisasi kebahasaan pada kelompok-kelompok lainnya. Bahkan pergeseran bahasa penyihir yang martabat moralnya jatuh, digambarkan dengan sangat baik. Dengan cara bahasa yang digunakannya mulai terdegradasi menjadi ocehan demagog, yang tidak menyenangkan saat diucapkan atau bahkan didengar.
Sampai disini jika diurutkan dari struktur narasi interlacing, dapat diambil pelajaran bahwa dalam menulis cerita. Kita bisa melakukan pembagian blok penceritaan yang memotong klimaks cerita tepat sebelum penyelesaian, dan berpindah menuju kelompok atau fokus lain demi menyiksa ekspektasi pembaca, sekaligus membentuk kepingan mozaik takdir jika disatukan kembali.
Lanjut variasi gaya prosa lingustik, metode Kakek Tolkien mendorong kita supaya bereksperimen meninggalkan kebiasaan menulis dengan gaya monolit. Dimana seluruh kelompok atau ras bersuara menggunakan tata bahasa yang seragam dengan penulisnya. Beliau memberi kita contoh bahwa pemilihan ritme kalimat, perlu diukur dari panjang rentang hidup, sejarah penderitaan, dan isolasi geografis karakter.
Selanjutnya
Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 5"
Posting Komentar