Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 2

Metode pertama : metode philological construction dan pendekatan language first

Fondasi paling fundamental dan yang paling disebut-sebut sebagai pembeda dari cerita yang dibuat Kakek Tolkien, adalah pendekatannya yang berpusat pada bahasa. Secara akademis metodenya dikenal sebagai language first approach.

Sebagai seorang profesor filologi yang mengkhususkan diri pada bahasa Jemanik Kuno dan Bahasa Inggris Kuno di Universitas Oxford. Kakek Tolkien mempraktikkan seni mengkontruksi bahasa buatan atau glossopoeia. Sebagai hobi seumur hidup yang berevolusi menjadi mahakarya sastra. Beliau menyatakan dalam korespondensinya bahwa kisah-kisah di Middle earth, pada dasarnya diciptakan semata-mata untuk menyediakan dunia bagi bahasabahasa temuannya agar dapat hidup. Pendekatan ini jelas membalikkan paradigma penulisan fiksi spekulatif konvensional. Yang menempatkan linguistik sebagai generator utama dari sejarah, geografi, dan konflik budaya.

Kakek Tolkien tidak sekedar menciptakan daftar kosa kata acak untuk menghasilkan namanama yang terdengar eksotis. Beliau mengkontruksi keluarga bahasa yang saling berhubungan, dan meniru metodologi lingustik historis komparatif. Yang digunakan untuk melacak akar dari bahasa-bahasa Indo Eropa di dunia nyata.

Contohnya dalam cerita adalah bahasa kaum peri atau kalau terdengar asing, sebut saja bahasa elf atau elves. Dalam narasinya dibagi jadi Quenya (High Elven) dan Sindarin (Grey Elven). Kedua bahasa elves tersebut direkayasa oleh Kakek Tolkien sedemikian rupa, sehingga keduanya secara etimologis berevolusi dari 1 akar purba yang sama, yaitu Common Eldarin. Perpecahan bahasa ini dikondisikan oleh pemisahan geografis dan budaya selama ribuan tahun. Sehingga menciptakan diferensiasi logis yang lazim terjadi pada migrasi peradaban manusia.

Dalam mensimulasikan percabangan bahasa ini, Kakek Tolkien mengaplikasikan hukum perubahan bunyi yang sangat presisi dan sistematis. Misalnya Quenya dirancang untuk mempertahankan karakteristik konservatif dari bahasa purbanya. Sehingga strukturnya kaya akan vokal dan sangat terinspirasi terhadap fonologi bahasa Finlandia dan Latin.

Disisi lain Sindarin mengalami evolusi yang jauh lebih dinamis akibat kontak dengan lingkungan keras di Middle earth. Di bagian Sindarin, Kakek Tolkien memberikan hukum mutasi konsonan yang sangat mirip dengan bahasa Welsh (Brythonic). Dimana bahasa ini mengalami bentuk lenisi (pelemahan konsonan) dan asimilasi.

Sebagai contoh lebih dalamnya terkait perubahan fonologis dari akar purbanya. Sindarin berubah secara teratur menjadi frikatif (\phi, \theta, x) dari bunyi konsonan aspirat (p^h, t^h, k^h). Selain itu Quenya mempertahankan bunyi labiovelar /k^w/, yang merupakan ciri evolusi bahasa Irlandia kuno. Sementara Sindarin sering mengalami reduksi atau hilang sepenuhnya melalui proses apokope. Ini membedakannya secara tajam dari Quenya yang mempertahankan struktur silabis yang beresonansi panjang.

Bahkan tata nama di Middle earth terasa sangat istimewa karena menurut penelitian linguistik modern. Tata nama tersebut dikendalikan oleh prinsip phonetic fitness (kesesuaian fonestik). Prinsipnya mewajibkan bunyi dari sebuah nama untuk secara estetis dan intuitif, mencerminkan identitas budaya, sifat, dan bahkan sejarahnya.

Lebih lanjut Kakek Tolkien secara sadar menginjeksi apa yang disebut sebagai phonoprint, yaitu sebuah bias fonologis pribadi terhadap bunyi-bunyi tertentu. Beliau sangat menggemari penggunaan konsonan nasal (macam /m/, /n/) dan konsonan likuida (seperti /l/, /r/). Kedua penggunaan konsonan tersebut diwarnai dengan konsonan frikatif bersuara demi menamai entitas yang mulia dan indah. Contoh dari hasil penamaan ini adalah nama-nama peri atau elf seperti Arwen Undomiel atau Celebrimbor. Contoh nama-nama tersebut terdengar sangat mengalir, eufonik, dan puitis di telinga kita sebagai pembaca.

Sementara disisi lain, Black Speech dari Mordor dikontruksi menggunakan rangkaian fonem dan guttural. Rangkaian tersebut dirancang untuk terdengar keras, terdistorsi, agresif, dan mencerminkan korupsi spiritual para penuturnya.

Kompleksitas ilusi historis Tolkien, diperdalam melalui posisinya yang menempatkan diri sebagai penerjemah dari naskah kuno. Dibanding menjadi penulis atau pencipta cerita. Jadi Kakek Tolkien menerjemahkan bahasa penutur asli ras Manusia dan Hobbit di era ketiga. Yang dikenal sebagai Westron atau Common Speech menjadi bahasa Inggris modern. Tujuan Kakek Tolkien melakukan hal ini, adalah agar pembaca dapat merasakan keakraban kultural. Sama seperti para Hobbit merasakannya terhadap bahasa ibu mereka.

Contoh luar biasa dari dedikasi beliau terhadap unsur filologis adalah asal-usul linguistik dari kata hobbit itu sendiri. Jadi dalam bahasa internal fiktif Westron, nama asli yang digunakan para Hobbit untuk menyebut spesies mereka adalah kuduk. Secara historis dalam cerita tersebut, para Hobbit memiliki kekerabatan lama dengan ras manusia utara. Yang disebutkan bahwa leluhurnya adalah para Penunggang Kuda Rohirrim.

Dalam bahasa kuno Rohirrim, istilah untuk merujuk ras kecil ini adalah kud-dukan, yang bermakna pembangun lubang. Kakek Tolkien sebenarnya sempat mengalami dilema logis, khususnya tentang bagaimana menerjemahkan bahasa Rohirrim. Alasan paling pentingnya kenapa hal ini jadi dilema, Kakek Tolkien masih tidak yakin apakah proporsi kekerabatan historisnya bisa terlihat oleh pembaca Inggris.

Solusi dari permasalahan tersebut akhirnya terpecahkan dengan cara Kakek Tolkien menerjemahkan bahasa Rohirrim menggunakan Bahasa Inggris Kuno (Anglo-Saxon). Beliau mengambil akar kata Bahasa Inggris Kuno hol-bytla. Yang secara harfiah berarti “pembangun lubang” atau “hole-builder”). Kata ini dibiarkan berevolusi secara alami mengikuti pola evolusi kebahasaan dan melalui pengikisan fonetik dalam bahasa Inggris modern. Hasilnya kata Hobbit pada akhirnya ditemukan.

Hal yang sama juga diterapkan pada nama-nama individunya. Sebagai misal nama asli Frodo dalam bahasa Westron adalah Maura. Nama Maura berasal dari akar kata yang bermakna “bijaksana berdasarkan pengalaman”. Tapi karena nama tersebut terdengar seperti nama perempuan, Kakek Tolkien mencari padanan nama maskulin dari akar rumpun Jermanik. Dengan kriteria bahwa maknanya harus serupa, sehingga terpilihlah nama Frodo.

Inti yang bisa kita ambil dari informasi metode pertama dari Kakek Tolkien ini. Kalau misalnya kita ingin setidaknya sedikit mereplikasi tingkat kebahasaan karya beliau. Kita tidak boleh memperlakukan nama tempat atau karakter sebagai sekadar label fungsional sementara. Harus ada makna dibelakang namanya yang menunjang kenapa bisa seorang karakter bersifat seperti ini. Atau kenapa suatu tempat bisa bernama seperti itu.

Sejujurnya poin ini lumayan menyindirku karena aku pribadi memang asal memberi nama karakter di ceritaku. Walau alasannya sendiri adalah demi menyindir kebiasan kita orang Indonesia. Yaitu asal memberi nama anak yang penting kedengeran keren, tidak peduli artinya apa nama tersebut kalau diterjemahkan. Filosofi Kakek Tolkien ini mungkin bisa menjadi perbaikan serta pengingat bahwa filosofi penamaan dalam cerita memanglah sepenting itu.

Kalau dirasa belum cukup dengan filosofi penamaan, kita bisa mereplikasi tingkat kebahasaan karya Kakek Tolkien dengan beberapa langkah berikut. Langkah pertama kita perlu merancang bahasa purba hipotesis yang sangat mendasar. Misalnya menetapkan daftar inventaris fonem, hukum struktur suku kata, dan sekitar seratus akar kata dasar. Kedua, ketika sejarah fiksinya memaksa sebuah ras untuk terpecah entah karena alasan migrasi atau apapun. Berikan serangkaian aturan perubahan fonetik yang ketat pada masing-masing faksi. Seperti hilangnya konsonan di akhir kata pada satu kelompok, atau perubahan bunyi vokal ganda menjadi vokal tunggal pada kelompok lainnya.

Langkah ini akan memastikan bahwa setiap wilayah geografis dalam peta, memiliki konsistensi akhiran nama yang dapat dianalisis secara linguistik. Kemudian dengan langkah kedua, kita bisa menanamkan keyakinan tak sadar pada pembaca bahwa dunia kita berkembang secara organik seperti kebudayaan dunia nyata. Langkah ketiga atau terakhir, hindari pencampuran struktur kebahasaan yang saling tumpang tindih. Kemudian pertimbangkan untuk memposisikan diri kita sebagai penerjemah dari cerita tersebut (sama seperti apa yang dilakukan kakek). Sehingga kita bisa membenarkan penggunaan bahasa yang digunakan pembaca secara familiar.

Sebelumnya

Selanjutnya

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 2"