Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings bagian 1
Sejak dulu aku lumayan banyak menonton film fantasi live action. Sebut saja judul seperti Harry Potter, Narnia, hingga The Lord of the Rings, aku sudah menonton semuanya waktu ditayangkan di televisi lokal. Hanya saja aku waktu itu hanya menontonnya sambil lalu. Aku merasa tidak menunggu secara antusias saat judul-judul diatas akan ditayangkan. Padahal teman-teman sebayaku lumayan antusias lho, terutama saat Harry Potter pada akhirnya bisa kami tonton di salah satu chanel televisi.
Bagiku pribadiya ya di waktu itu judul-judul cerita fantasi diatas hanyalah film keren barat lainnya. Yang entah bagaimana agak berbeda dari film barat yang seringnya ditayangkan di televisi lokal, karena genrenya fantasi layaknya negeri dongeng. Bahkan kalau boleh mengakui, awalnya aku merasa lebih suka film-film macam Superman dan Spiderman. Dibanding film-film fantasi tersebut.
Puncaknya sewaktu di sekolah, dimana teman-teman mulai secara antusias mempraktekkan beragam mantra Harry Potter. Aku hanya menonton keasikan mereka saja sambil bertanyatanya. Bukankah jaring laba-laba yang keluar dari tangan. Atau seseorang yang bisa mengangkat benda jauh lebih besar dari tubuhnya lebih keren?
Ironinya setelah bertahun-tahun kemudian, saat kami sudah beranjak dewasa. Lebih tepatnya saat aku secara pribadi mulai mengisi waktu luang dengan mengetik cerita. Aku baru ngeh bahwa cerita-cerita fantasi yang sering kuanggap lalu sebelumnya. Ternyata bukan sekedar halu penulis ceritanya yang kebetulan difilmkan. Tetapi ceritanya tetap memiliki aturannya sendiri sehingga jalan ceritanya, teratur layaknya jalannya dunia kita sekarang ini.
Dan ngomong-ngomong soal mengatur jalan ceritanya hingga teratur mirip dunia kita sekarang. Aku pribadi menandai 1 judul yang entah bagaimana, pembangunan dunianya benar-benar dibuat kokoh seperti yang kuharapkan. 1 judul yang kumaksud tersebut adalah The Lord of the Rings.
Disaat aku menyebutkan betapa kokohnya pembangunan dunia cerita, sehingga berefek pada teraturnya jalan cerita. Itu bukan tentang dunianya punya banyak negara seperti dunia kita sekarang. Atau betapa banyaknya masalah absurd yang perlu diselesaikan. Tapi ini tentang pembangunan dunia tersebut begitu konsisten dan detail. Khususnya di hal-hal yang menunjang plot utama cerita.
Singkatnya bagi yang belum paham. Di cerita The Lord of the Rings inti ceritanya kan tentang cincin sakti. Yang saking saktinya itu cincin, cincin tersebut bisa dengan sangat mudah memperbudak siapa saja penemunya. Karena orang-orang tidak mau diperbudak, makannya efek cincin ini dianggap jahat. Jadinya mereka perlu melakukan sesuatu tentang cincin ini.
Bagiku pribadi plot barusan adalah garis besar yang simpel. Ada cincin aneh yang bisa memperbudak pemakainya. Orang-orang tidak suka dengan sifat cincin tersebut. Dan kemudian mulai berpikir untuk melakukan sesuatu mengenai si cincin.
Kalau misalnya saja plot tersebut diserahkan kepada orang sepertiku. Mungkin penyelesaiannya akan sesimpel dipendam didalam tanah. Atau kalau ingin agak lebih ekstrim, akan kubuat sebuah skenario dimana cincinnya akan dilempar di tengah samudra yang luas. Jadinya tidak akan ada orang yang akan menemukannya, tertarik padanya, dan semua orang berakhir bahagia.
Sayangnya karena cincin barusan punya embel-embel sakti hingga disebut dalam judul ceritanya sendiri. Pemecahan masalah seperti yang akan kulakukan, tentu tidak akan berhasil. Sehingga disinilah peran penulis sangat krusial dalam menjembatani si cincin sakti, dan mereka yang tidak ingin diperbudak olehnya.
Adalah J.R.R Tolkien nama dari seorang penulis tersebut yang mampu menjembatani hal krusial yang barusan kusebutkan. J.R.R Tolkien atau kita sebut saja beliau sebagai Kakek Tolkien, faktanya tidak hanya bisa mendefinisikan ulang genre fantasi modern. Tapi cara beliau dalam menulis The Lord of the Rings, juga menetapkan standar emas dalam konstruksi dunia fiktif yang sangat presisi.
Pertanyaannya bagaimana cara dari Kakek Tolkien bisa menulis karya masterpiece seperti The Lord of the Rings. Bagaimana bisa sebuah cerita fantasi yang secara harfiah berasal dari kehaluan otak manusia. Bisa diceritakan begitu kokoh hingga ceritanya minim plot hole dan terasa angat nyata.
Didalam ketikan ini, aku akan menyajikan hasil riset mendalamku mengenai teknik penulisan, filosofi arsitektural narasi, dan pendekatan dari Kakek Tolkien. Dalam menciptakan alam semesta dimana kisah The Lord of the Rings berjalan, yaitu Middle earth.
Selain itu aku sedikit berharap bahwa dengan selesainya ketikan ini nanti. Aku dan siapapun penulis fiksi modern yang membaca ketikan ini. Akan mendapatkan rumusan panduan praktis, komprehensif, dan terstruktur. Dalam meniru kedalaman dimensi, ilusi sejarah, serta resonansi mitologis. Yang menjadi ciri khas abadi dari karya-karya Kakek Tolkien.
Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings bagian 1"
Posting Komentar