Tips – Tips Menulis Cerita Dari JK Rowling 4

Jadilah penulis dan pembaca di waktu yang sama (4)

Membaca poin keempat, tidak salah kalau ada yang menerjemahkannya begini. “Jangan suka menulis kalau kau tidak suka membaca.”

Walau memang kaitan antara menulis cerita dan membaca bacaan lain sangat erat hubungannya. Tapi disini aku tidak akan mengambil bahasan itu dari tips – tips menulisnya JK Rowling. Aku hanya ingin bilang kalau ini tentang menulis cerita kita sendiri, dan membaca cerita kita sendiri. Jadi membaca buku, koran, atau sumber inspirasi lain apapun, tidak akan kubahas lebih jauh selain hanya kusebutkan sedikit seperti sekarang.

JK Rowling pernah mengatakan kalau beliau tidak memiliki target pembaca tertentu saat menulis Harry Potter. Beliau hanya memikirkan apa yang ingin beliau baca. Dari sini jelas sekali bahasan poinnya mengenai jadi penulis, dan pembaca disaat yang bersamaan. Misalnya kita menulis kisah seorang CEO cowok tampan berumur 15 tahun nih. Nah setelah mungkin selesai 1 bab dulu aja, tolong baca lagi cerita tersebut lewat sudut pandang sebagai pembaca dan bukan penulis. Kira – kira begitulah maksud dasar dari poin keempat.

Kegiatan merubah sudut pandang jadi seorang pembaca ini sebenarnya mendorong kita kearah aktivitas berikutnya yaitu revisi. Nah berbicara soal revisi, kita tidak akan cukup hanya di revisi salah penulisan atau pengetikan kata dan kalimat. Revisi yang diharapkan JK Rowling malahan lebih ke bagaimana sih kita menyusun alur cerita dari angka 1 sampai 10. Maksudnya adalah untuk mencapai angka 10, kita perlu menyusunnya dari angka 1, 2, 3 dan seterusnya secara berurutan.

Tambahan sedikit dariku, jika kalian memang punya ide cerita masterpiece di kepala dan ingin menuliskannya. Buang jauh – jauh dulu hal – hal baku yang kiranya menyulitkan kita dan tidak terlalu penting. Misalnya jika kita tidak tahu penggunaan kata sambung atau imbuhan dengan baik dan benar. Andalkan dulu aja apa yang kita tau dan pentingkan penyusunan plotnya. Masalah salah penulisan kata imbuhan dan lain sebagainya bisa diurus nanti – nanti kalau urusan utama sudah selesai. Sebagai catatan, aku disini bukannya meremehkan kaidah penulisan kalimat yang baik dan benar ya. Aku hanya menekankan prioritas – prioritas dalam menulis berdasarkan pengalamanku sendiri.

Kembali ke topik, JK Rowling mengatakan bahwa beliau telah menyelesaikan draft pertama buku Harry Potter 1, sebelum menyadari bahwa ia telah memasukkan beberapa elemen plot utama yang seharusnya tidak perlu dimunculkan saat itu. Akibatnya, beliau kembali ke belakang meja demi memperbaikinya.

Persis seperti ketikan di paragraf sebelumnya, JK Rowling jelas menekankan bahwa alur cerita dan tempo adalah hal terpenting dalam menulis khususnya bagi pembaca. Walau memang pembaca akan senang diberikan informasi sehingga meminimalkan kasus plot hole kedepannya. Tapi pembaca juga ingin enjoy dalam membaca, dan setidaknya pembaca berharap bahwa cerita buatan kita bisa relate dengan kejadian yang setidaknya bisa dibayangkan didalam imajinasinya.

Tapi kan kalau nggak dituangkan semua informasinya, kita perlu memperpanjang tulisan secara tidak perlu dong. Atau kalau memang idealis tidak mau memasukkan omong kosong, ceritanya bakal tamat secara lurus aja yang berdampak, ceritanya akan jauh dari karya masterpiece yang diinginkan kepala kita. Kalau endingnya kayak begitu, sebagai penulis kita harus gimana?

Nah inilah gunanya kita membaca ulang tulisan kita. Disaat kita menulis sebuah cerita masterpiece, lalu menyadari bahwa entah itu emosi atau konfliknya flat serta lurus aja. Kita akhirnya tahu kelemahan tulisan kita lewat sudut pandang pembaca.

Sebagai tindak lanjut, anggap saja yang bertanya sebelumnya sudah menyusun alur sesuai prinsipnya JK Rowling. Yaitu menunjukkan hal – hal yang kiranya perlu aja di plot saat itu. Lalu dalam prosesnya kok ia merasa ada yang kurang. Maka kita perlu senjata yang namanya permen manis nan lengket supaya pembaca ketagihan. JK Rowling memberikan permen ke pembacanya berupa hal – hal sepele tapi menarik dalam dunia sihir. Katakan saja jajanan kacang segala rasa, dengan konsep tidak umum seperti rasa makanannya mirip kotoran telinga.

Untuk permisalan penulis modern seperti kita, mungkin dalam kasus CEO 15 tahun sebelumnya. Kita akan menyusupkan penjelasan mengenai konsep pencucian uang, bagaimana saham bekerja, atau konsep tangan tuhan dalam ilmu ekonomi (jangan bucin mesum melulu!). Jadinya pembaca itu akan merasa bahwa dunia yang kita buat benar – benar megah dan kayak di dunia nyata. Walaupun yah, seringkali itu cuman gimik karena penulisnya sebenarnya sedang bingung mikirin bagaimana menghubungkan ini itu atau kalau tidak. Penulisnya malahan lagi berusaha untuk memenuhi kuota kata harian yang perlu disetor.

Kesimpulannya, walau kita seringkali perlu meraba – meraba apa yang disukai pasar. Dalam hal ini berkaitan dengan cerita. Kita perlu setidaknya menetapkan standar kita sendiri pada tulisan kita dengan cara menjadi pembaca kritis untuk tulisan kita sendiri. Jadinya dengan begitu seenggaknya kita sebagai pembaca, juga akan sama puasnya seperti saat kita telah selesai menulis. 


Sebelumnya

Selanjutnya

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Tips – Tips Menulis Cerita Dari JK Rowling 4"