Tips – Tips Menulis Cerita Dari JK Rowling 5
Petakan cerita novel yang kita tulis (5)
“Ya, saya banyak merencanakan dan biasanya dalam bentuk tabel. Untuk novel ini, saya punya ide alurnya di tahun 2013, tapi sudah mengalami revisi besar-besaran sejak saat itu.”— JK Rowling.
Poin kelima kelihatannya terlalu serius kalau sekedar dibaca sekilas. Maksudku bagaimana tidak dianggap terlalu serius coba. Kebanyakan dari kita menulis cerita mungkin hanya untuk sekedar mengisi waktu luang, pelarian dari kehidupan nyata yang begitu-begitu saja, atau sekedar hiburan layaknya bermain game. Jadi mungkin memetakan cerita rasanya terlalu berlebihan.
Namun sebelum menilai poin bahasan hanya dari judulnya, mari bahas lebih dalam mengenai poin kelima yang terlihat sederhana namun berdampak ini.
JK Rowling dianggap sebagai perencana yang sangat teliti dalam menulis ceritanya. Lalu walaupun beliau dianggap perencana yang ulung sehingga dunianya terasa hidup dan saling berkaitan. Apakah menurutmu penulis Harry Potter tersebut selalu hafal seluruh rincian ceritanya. Atau selalu membaca ulang setiap kalimat ceritanya sejak awal, demi kesinambungan di bagian terbaru.
Jawabannya adalah tidak. JK Rowling mungkin kadang-kadang memang membaca naskah ceritanya dari awal demi memeriksa kesinambungan plot cerita. Tapi JK Rowling juga manusia. Beliau tidak ingat setiap rincian yang memuat detail-detail kecil ceritanya. Dan tentu JK Rowling tidak selalu membaca ceritanya sendiri dari awal, demi menindaklanjuti setiap detail yang beliau sebar di sepanjang cerita.
Lalu kalau begitu bagaimana cara JK Rowling mengatasi permasalahan, yang sangat erat kaitannya dengan panjangnya cerita Harry Potter? Seperti yang kalian bisa duga jawabannya adalah poin judul diatas, yaitu “Petakan cerita novel yang kita tulis.”
Dibawah poin judul, bisa dibaca ulang bahwa beliau merencanakan cerita novelnya dalam bentuk tabel. Di beberapa kasus pencarian dataku, bahkan aku mendapatkan tangkapan gambar perencanaan tabel yang mungkin beliau maksud. Dalam tangkapan gambar tersebut, aku bisa melihat sendiri bahwa JK Rowling jelas melakukan pemetaan cerita diatas kertas manual. Yang kalau diperhatikan baik-baik, itu lebih seperti tulisan catatan anak kelas satu yang tidak rapi dan penuh coretan disana-sini.
Pokoknya kalaupun aku kenal dengan beliau dan kebetulan main ke rumahnya. Hal pertama yang kupikirkan saat melihat kertas-kertas itu mungkin saja bukan. Oh ini pemetaan untuk cerita Harry Potter yang terkenal itu. Tapi aku mungkin akan berpikir, pastinya anak kecil dalam keluarga beliau baru-baru ini telah berkunjung, dan mencoret-coret kertas milik beliau.
Kisah tentang pemetaan yang dilakukan JK Rowling diatas mungkin menginspirasi. Namun kita pada kenyataannya belum meluruskan bagian dimana eratnya kaitan memetakan cerita, dengan keinginan kita untuk meminimalisir beban menulis cerita. Bahkan mungkin sebenarnya kisah JK Rowling sebelumnya, malah semakin menjadi bukti bahwa melakukan pemetaan cerita memang hanya dilakukan oleh penulis-penulis yang sangat serius serta profesional.
Maka demi meluruskan hal tersebut, aku juga akan membagikan pengalamanku dalam menulis naskah cerita yang disertai pemetaan hampir mirip seperti yang dilakukan JK Rowling. Walau secara model pembuatan peta ceritaku cukup berbeda dari yang dilakukan JK Rowling. Aku benar-benar melakukannya secara rinci. Seperti mencatat nama-nama tokoh ceritaku, ringkasan setiap bab, detail-detail penting yang ada dalam cerita, bahkan ciri-ciri dan karakteristik tokoh dalam cerita. Aku juga tidak lupa menuliskan rincian mengenai kemana harusnya alur ceritaku akan berlabuh di masa depan.
Aku awalnya juga ogah-ogahan buat beginian karena rasanya sia-sia nggak sih. Kalau kita nggak langsung lanjut bab berikutnya dan berikutnya.
Namun seiring berjalannya waktu, ternyata pemetaan cerita ini terasa berguna juga saat aku masuk ke bab 50 atau 60 an. Terasanya bagaimana?. Terasanya itu kita tidak perlu baca manual lagi dari awal demi menjaga konsistensi. Kita hanya perlu baca saja catatan atau pemetaan yang sudah kita lakukan tersebut, dan langsung selaraskan dengan bab terbaru.
Memang walaupun catatannya akan terkesan terus bertambah banyak seiring bertambahnya bab cerita. Tapi setidaknya aku tidak harus baca 50000 kata atau 60000 kata secara manual lagi. Hanya untuk mengetahui dan menyelaraskan informasi bahwa tokoh A bisa melakukan “Expelliarmus!” di bab 27, misalnya.
Selanjutnya sebagai penutup, aku akan menyarankan supaya membuat peta cerita sebebas mungkin. Pokoknya diri sendiri paham dan mudeng ya gas aja apapun bentuknya. Apakah itu kayak JK Rowling yang bisa diaplikasikan di Excel. Atau kayak aku yang hanya modal aplikasi catatan, dan tulis aja apa-apa yang penting. Sebagai penandanya, cukup gunakan simbol-simbol yang tersedia di keyboard. Intinya diri sendiri paham maksud peta cerita tersebut. Lakukanlah.
Mungkin itu saja yang bisa kubagikan mengenai tips menulis cerita dari JK Rowling. Semoga bermanfaat dan bisa membantu membuat cerita kalian menjadi lebih baik dan keren. Akhir kata, terima kasih untuk teman-teman yang mau membaca tulisan ini.
Posting Komentar untuk "Tips – Tips Menulis Cerita Dari JK Rowling 5"
Posting Komentar