Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 6

Metode kelima : Tema Eucatastrophe, Plot Kemenangan Kosmik Melalui Belas Kasihan

Seluruh rangkaian kehebatan Kakek Tolkien mulai dari penyusunan bahasa, hingga penataan interlacing yang meletihkan. Pada akhirnya dipadukan secara harmonis, demi menyampaikan muatan teologis yang mendasari jiwa cerita tersebut. Intinya semua ini jika dirangkum akan menciptakan neologisme sastra yang mashyur, yang bernama Eucatastrophe (Eukatastrofi).

Berasal dari Bahasa Yunani, Kakek Tolkien menafsirkan eucatastrophe sebagai pembalikan nasib mendadak menuju kebahagiaan sejati, di momen ketika tragedi kehancuran total terasa absolut dan tak terelakkan. Berbeda dengan deus ex machina yang identik dengan penyelesaian konflik tanpa alasan organik melalui intervensi dewa atau pahlawan. Eucatastrophe lebih seperti rahmat ajaib yang menembus seperti seberkas cahaya. Sehingga kejadian ini bagi beliau lebih melahirkan letupan penghiburan spiritual yang menyentak jiwa. Serta menerbitkan tangis sukacita yang hakiki dari pembaca.

Eukatastrofi memvalidasi komitmen terhadap harapan. Dalam cerita itu sendiri, eukatastrofi melakukan penyangkalan terang-terangan terhadap nihilisme atau kekalahan tragedi universal. Konsep ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa ada campur tangan ilahi disana. Sehingga merajut penderitaan menuju kemenangan dengan cara diluar pemahaman makhluk fana.

Namun walau konsepnya seperti bantuan dari tuhan, yang dalam cerita merupakan bantuan penulis. Eukatastrofi ini menolak jatuh dari langit, atau pemunculan karakter mahasakti layaknya deus ex machina. Ia terpicu sebagai reaksi berantai kosmik atas pilihan-pilihan moral otonom para karakternya. Terutama saat para karakternya teruji lewat penempaan kerendahan hati. Atau pengorbanan suci demi melepas kekuasaan dan penyaluran belas kasihan.

Bahasa paling mudahnya demi menjelaskan semua ini, yang tentunya berdasar dari apa yang kutangkap secara pribadi. Yaitu alih-alih menggunakan plot deus ex machina seperti misalnya. Muncul karakter OP entah darimana yang menyelamatkan tokoh utama. Atau tibatiba penjahat dibuat bodoh demi memberi ruang tokoh utama untuk mengalahkannya. Ada baiknya kita buat saja karma baik tokoh utama tersebut yang menyelamatkannya dari jurang kekalahan.

Maksudnya walau menurutku secara pribadi ini mungkin agak tipis jaraknya dengan deus ex machina. Namun kalau kita bisa membuat pembaca memahami hal itu, dan bisa membuat pembaca mengurutkannya sejak awal. Setidaknya walau nanti hasil akhirnya mirip seperti kasus deus ex machina. Pembaca akan lebih puas dibandingkan kasus deus ex machina yang dibuat dengan sengaja dan seadanya.

Contohnya bisa diketahui dan dipahami dengan melihat atau membaca ending dari The Lord of The Rings. Tapi karena lagi-lagi aku ingin berusaha tidak terlalu menspoiler isi cerita ini, jadi aku akan berusaha cari padanan lain.

Anggap saja kita sebagai tokoh utama memiliki seorang teman. Masalahnya walaupun kita dan teman kita ini sering bersama, entah itu di lingkungan rumah atau kantor. Teman kita ini sangat membenci kita tanpa kita ketahui penyebabnya apa. Kita sudah bertanya tentang kesalahan yang mungkin tidak kita sadari terhadapnya, minta maaf, dan bahkan berusaha akrab dengannya kendati dianya ogah.

Sayangnya ya begitu, tidak peduli kita sering berbuat baik kepadanya atau bahkan menolongnya. Teman kita yang 1 ini terus saja membenci kita bahkan tidak jarang berusaha menjatuhkan kita.

Singkat cerita hingga pada suatu kondisi, dengan modal kebencian dan akal jahatnya. Dia memfitnah kita di kantor atas sesuatu yang tidak kita lakukan. Kita disini membela diri atas tuduhan tersebut dengan tanpa menuduh balik bahwa teman kita itulah yang menyebarkan fitnah. Walaupun kita sudah hafal dengan gaya tuduhan-tuduhan tak berdasar itu pasti darinya. Kita tetap berpikiran positif seperti, walau mungking dia memang sering jahil ke kita. Tentunya tidak pasti teman kitalah pelakunya hanya karena gaya tuduhan itu sangat familiar di pikiran kita.

Pada akhirnya karena kita rupanya tidak bisa melawan bos yang menunjukkan bukti-bukti, kita harus menerima kenyataan pahit. Kita dipecat dari pekerjaan kantor secara tidak hormat. Tidak ada pembelaan dari teman-teman kerja lain, atau kesediaan bos untuk lebih mendalami bukti-bukti. Semuanya berlalu begitu saja seolah-olah memang kita bersalah dan harus dipecat.

Tidak habis sampai disana, rupanya teman kita yang satu itu juga menyebarkan rumor buruk tentang kita di lingkungan rumah. Hasilnya kita tidak hanya dikeluarkan dari kantor, tapi kita juga jadi bahan gunjingan orang-orang. Kita depresi, kesal, dan merasa semua ini tidak adil. Namun karena kita tidak ingin berburuk sangka, kita tetap tidak menuduh teman kita itu. Kita terus menjalani hidup walaupun dengan tertatih-tatih.

Merasa stress dirumah tidak ngapa-ngapain dan mendengar gunjingan tetangga. Kita keluar demi cari pekerjaan baru sekalian cari angin supaya segar. Sayangnya mencari pekerjaan di negara ini sulit sekali. Sekalipun kita punya ijazah S1 dan memiliki IPK tinggi, lowongan kerja sudah penuh dengan orang-orang. Bahkan dengan menurunkan ekspektasi sebagai lulusan S1, mencari pekerjaan tetaplah sulit. Sehingga dengan banyaknya lowongan yang tersedia. Setelah dicek lebih mendalam dan menseriusi beberapa wawancara kerja remeh temeh. Kita tetap tidak berakhir di kursi tempat kerja, melainkan duduk kursi taman sepi atau kursi pinggir jalan.

Ketika pada akhirnya di kursi taman atau pinggir jalan ketahanan diri kita patah, dan air mata kita mengalir mengikuti rasa putus asa didalam hati. Tiba-tiba bos menelepon kita dan menyuruh kita kembali ke kantor sambil terus meminta maaf.

Pertanyaannya kenapa tiba-tiba bos menelepon dan meminta kita kembali?

Rupanya jawabannya tidak didikte oleh kebaikan dari teman-teman kita lainnya di kantor, yang entah bagaimana berani speak up ke bos demi membela kita. Atau bahkan tidak karena bos yang merasa janggal dan melakukan pengecekan kembali terhadap tuduhan. Namun itu semua ditumbuhkan dari rentetan bibit etis kecil yang mengutamakan keluhuran nurani.

Bagi Kakek Tolkien resolusi kosmik pembalikan ini tidak dimulai dari hari kemarin. Tapi sudah dari saat kita mulai berusaha meminta maaf dari teman kita, walau kita tetap tidak diberitahu salah kita apa. Tindakan penghasil eukatastrofi tersebut terus saja kita ulang saat kita menolak untuk berpikiran negatif terhadap teman kita. Bahkan saat kita yakin bahwa bocah inilah alasan kenapa hidup kita jadi sengsara.

Sehingga saat kita akhirnya berada di titik terendah rasa putus asa. Panen eukatastrofi terjadi saat teman kita yang dipenuhi nafsu, malah membeberkan kejahatannya sendiri didepan bos dan orang-orang di kantor. Caranya, dia yang sudah merasa menang karena menyingkirkan kita dari tempat kerja dan mengucilkan kita di masyarakat. Berniat untuk menambah penderitaan kita dengan rencana penutup berupa sebuah chat wa. Didalam chat tersebut dia mengolok kita sebagai pecundang karena tidak bisa melawan tuduhan-tuduhannya. Sekaligus memberitahu kita alasan kenapa dia begitu membenci kita, yaitu iri karena kita punya progres bagus di kantor. Yang berujung pada ketegaannya menyingkirkan kita serta membuat kita sengsara.

Sayangnya rencana hampir sempurna itu kandas karena ketidaktelitiannya sendiri. Teman kita yang secara paradoks mampu melakukan semua hal itu berkat belas kasihan kita sebelumnya. Secara ironis menjadi agen tidak sengaja dalam pembalikan nasib kita. Sebagai pencerita, Kakek Tolkien menolak munculnya seorang pengacara jenius yang membantu kita. Beliau lebih memilih merayakan komitmen terhadap kebajikan penderitaan yang memicu keseimbangan alam semesta. Dan hal itu terwujud dalam ketidaktelitian teman kita saat mengirim chat penutup kesempurnaan rencananya.

Harusnya Teman kita tersebut mengirim chat penutupnya ke nomor wa kita. Sehingga saat kita membukanya di posisi kita sekarang. Kemenangannya akan terasa jauh lebih besar dan memuaskan baginya. Namun sialnya alih-alih mengirim chat tersebut ke wa kita. Dia malah mengirimnya ke wa grub kantor yang berisikan semua penghuni kantor termasuk bos. Hasilnya semua penghuni grup membaca chat yang ia kirim dan mendapatkan info terbaru mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Keterlambatan teman kita yang menyadari kesalahannya, memperburuk keadaannya sendiri. Walau dia menggunakan berbagai macam cara demi membuktikan bahwa isi chat itu tidak penting. Penyelidikan ulang dan lebih mendalam, harus dilakukan atas inisiatif bos dan banyak warga kantor. Alhasil fitnah dari teman kita terhadap kita terbongkar, dan dia menjalani hukuman dari apa yang dia lakukan sendiri. Disisi lain, berkat integritas kita dan kebaikan kita. Bos tidak hanya menerima kita kembali, tapi dia juga malah sekalian merencanakan promosi jabatan untuk kita di beberapa waktu mendatang.

Sekilas apa yang kuceritakan hampir mirip-mirip dengan plot deus ex machina yang seperti ini. Tiba-tiba musuh utama mendadak bodoh dan ceroboh sehingga memberi jalan bagi karakter utama untuk mengalahkannya. Namun harusnya jika dibandingkan dengan contoh yang kubuat, atau lebih bagus lagi kalau dibandingkan dengan contoh penerapannya di The Lord of The Rings. Aku yakin pasti akan didapatkan perbedaan mendalam dibanding plot deus ex machina biasa, yang seolah jadi pintas penulis untuk menyelesaikan plot dengan cara yang tiba-tiba ada.

Terakhir, ringkasan praktis yang bisa digunakan sebagai panduan atas apa yang aku tulis. Bisa jadi poin berikut ini. Yaitu untuk bisa meniru tema eukatastrofi milik Kakek Tolkien.

Kita sebagai perancang cerita dapat coba membuat dunia dan konflik utama yaitu sang antagonis. Tidak dapat dikalahkan hanya dengan cara tradisional seperti adu senjata saja. Sekali-kali buat titik tumpu keberhasilan protagonis di seutas benang kebajikan kecil yang tampak sepele. Misalnya apakah itu keputusan bodoh namun baik dengan membiarkan musuh hidup, menyelamatkan makhluk yang dianggap hina atau tidak penting dalam kemajuan plot di sela-sela perjalanan. Atau kesediaan tulus dalam menanggung penderitaan kutukan demi menyelamatkan peradaban tanpa mengharap rasa terima kasih.

Jadi intinya puncak kemenangan haruslah dirumuskan sebagai sebuah kucuran rahmat ajaib yang muncul secara mendadak namun tetap logis.

Mungkin hanya sampai disini saja hasil riset yang bisa kubagikan tentang cara menulis seperti Kakek Tolkien. Semoga bermanfaat bagi yang membaca ketikan ini. Dan terima kasih telah mampir ke blog ku, sampai jumpa di ketikan selanjutnya.

Sebelumnya

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Bagaimana J.R.R Tolkien Menulis Cerita Masterpiece Seperti The Lord of the Rings Bagian 6"