Aku mencoba menerjemahkan cerita novelku ke bahasa inggris

Jadi setelah berhasil mengetik 100 bab lebih, aku pun kepikiran untuk menerjemahkan cerita novelku jadi Bahasa Inggris. Hitung-hitung sambil belajar bahasa inggris lah, lalu yang paling penting. Aku membuat langkah itu karena berharap bahwa cerita yang kubuat bisa punya ceruk pasar yang dihargai di luar negeri. Mengingat genre ceritaku yang mungkin tidak terlalu memiliki pasar disini.

Masuk di saat aku mulai menerjemahkan cerita, aku memahami sesuatu di setiap kalimat yang kuterjemahkan. Sesuatu yang pertama kupahami adalah aku tidak bisa bahasa inggris. Sebenarnya aku bukannya tidak bisa yang lumayan parah ya, karena sedikit-sedikit obrolan sehari-hari aku masih lumayan nyantol. Namun karena kalimat yang kuterjemahkan lebih dari ucapan sehari-hari. Yaitu sebuah cerita novel. Yang walau bagus tidaknya ceritaku tersebut masih dipertanyakan. Setidaknya di setiap bab cerita, ada 1000 kata lebih. Berarti kalau disederhanakan saja setiap bab ada 1000 kata, maka aku punya tanggungan 100000 kata lebih untuk diterjemahkan.

Mengetahui jomplangnya antara keterbatasanku dan tanggunganku tersebut, aku akhirnya memilih untuk menggunakan google translate supaya mempermudah kegiatanku dalam menerjemahkan cerita. Walau memang google translate seringnya eror kalau langsung menerjemahkan 1000 kata. Maka demi keakuratan, aku memilih untuk menerjemahkan cerita dengan cara mengambil bukan cuma paragraf per paragraf. Namun aku menerjemahkan cerita di google translate berdasarkan kalimat per kalimat. Maksudnya aku menerjemahkan per kalimat yang dipisahkan dengan tanda titik. Namun disinilah aku memahami sesuatu yang kedua.

Sesuatu yang kedua tersebut adalah ternyata google translate walau bisa menerjemahkan suatu kalimat dan paragraf. Si bro ini nggak terlalu canggih. Dia memang bisa menerjemahkan kata atau kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain. Namun terjemahan yang dia hasilkan adalah dasar dari bahasa inggris secara harfiah jika diterjemahkan satu-persatu. Sederhananya, kalau kamus online atau yang berbentuk buku. Kita perlu cari kata per kata untuk menerjemahkan suatu kalimat. Google translate ini menyederhanakan pencarian kata per kata. Namun susunannya tetap sama seperti kalau kita cari satu persatu kata dalam kamus. Dan menggabungkan semua terjemahan secara harfiah, yang mana ini sering sekali melanggar aturan penulisan dalam bahasa inggris itu sendiri.

Beberapa kalimat terakhir di paragraf diatas aku akan desklaimer sedikit. Sebenarnya hasil terjemahannya tidak buruk-buruk amat, dan tidak secara harfiah hanya menggabungkan kata terjemahan. Namun soal seringnya malah melanggar aturan penulisan tersebut. Itu adalah benar adanya yang sering kualami.

Contoh paling simpelnya adalah misal di suatu novel saat salah satu karakternya bilang seperti ini. “Aku akhirnya telah menembak gadis yang kusukai.” Maka si bro google translate akan menerjemahkannya secara harfiah begini. “I finally shot the girl I like.” Yang jika didengar oleh penutur asli bahasa inggris. Maka dia akan berpikiran bahwa karakter itu telah menembak cewek dengan pistol sampai mati.

Oke aku tahu kalau kata “menembak” sendiri memang diakibatkan oleh perbedaan budaya, khususnya dalam hal memahami makna antara penutur bahasa indonesia dan inggris. Yang mana itu merupakan kasus perbedaan makna terjemahan secara mencolok. Karena kata menembak, memang secara umum di seluruh dunia pun dianggap sebagai menembak dengan senjata dan bukan dengan kalimat romantis. Namun kalau kalian memiliki cerita novel dan coba kalian menerjemahkannya ke bahasa inggris. Dimana dalam menerjemahkan cerita tersebut kalian menggunakan google translate. Aku jamin kalian akan banyak menemukan padanan dari contoh yang kuketik diatas. Malahan dalam kasus nyata nanti, akan ditemukan kalimat yang lebih subtil dan tersembunyi sehingga kalau tidak direvisi secara mendalam. Akan sulit menemukannya.

Sesuatu ketiga yang kupahami dalam menerjemahkan cerita ke bahasa inggris adalah aturan penulisan. Sebenarnya sejak awal aku sudah tahu kalau aturan penulisan lumayan berpengaruh dalam menerjemahkan cerita ke bahasa inggris. Khususnya adalah tetap menjaga kolerasi secara akurat dengan cerita aslinya dalam bahasa indonesia. Namun yang nggak kuduga itu adalah ternyata ada hal-hal penting dan subtil dalam penggunaan aturan penulisan yang lumayan berpengaruh.

Contoh paling mudahnya adalah penggunaan kata ganti orang ketiga untuk laki-laki dan perempuan. Secara dasar kita sudah pasti tahu kalau kata ganti orang ketiga laki-laki adalah “He.” Sementara kata ganti orang ketiga perempuan adalah “She.” Namun saat menyelami lebih dalam, disana ada turunan yang meliputi his, him, her, dan hers. Belum lagi dengan aturan penggunaan aspostrof + s. Mungkin bagi yang mudah paham akan hal ini, hafalan dasar mengenai kata ganti atau pronoun tidak akan menjadi masalah. Namun sayangnya seperti yang diduga, bagi yang benar-benar zonk dalam bahasa inggris aturan penulisan ini lumayan merepotkan.

Yang lebih merepotkan lagi, seringnya google translate yang biasanya dianggap menjadi solusi utama untuk berbagai masalah diatas. Seringkali kecolongan mengenai aturan-aturan penulisan dasar ini. Sekarang saja tuliskan kalimat “Dia terlalu angkuh untuk mengakui kesalahannya” di google translate. Maka si bro akan menerjemahkannya seperti ini. “He was too proud to admit his mistakes.”

Dari kalimat ini saja dimana kita beri sorotan utama di kata ganti orangnya. Disana ada “He” diawal kalimat, dan “his” di kalimat akhir kedua. Yang mana diketahui kalau kedua kata ganti tersebut merupakan kata ganti spesifik untuk laki-laki. Padahal “Dia” yang dimaksud diatas tidak disebutkan secara jelas gendernya. Namun google translate tetap menggunakan “He” dan “His.”

Masih di aturan penulisan, ada beberapa hal lain yang tetap membuatku bingung walau aku cukup mudeng di tenses dan sebagainya. Hal tersebut sialnya juga cukup sulit untuk ditanyakan ke google, karena kemungkinan besar bro itu akan agak lama juga pahamnya mengenai apa yang sebenarnya ingin kutanyakan. Maka demi menghindari pencarian yang berputar-putar ala google yang kadang nggak peka. Aku mulai menggunakan senjata yang viral akhir-akhir ini. Dan senjata tersebut adalah aplikasi AI.

Aku punya beberapa aplikasi AI yang katanya cukup pintar dan responsif. Akan tetapi disini aku akan menggunakan AI yang menurutku paling cocok aja untuk menggantikan google. Dan berdasarkan banyak pertimbangan, aku akhirnya memilih ChatGPT sebagai Jarvis dalam proses penerjemahan novelku.

Kembali ke masalah sebelumnya, aku bilang kan kalau walaupun aku cukup paham dengan aturan penulisan dalam bahasa inggris. Masih ada saja yang membuatku ragu saat menerjemahkan novelku. Dan hal itu seperti.

Penggunaan kata “anda” dan “kau.” Lebih sederhananya ini tentang pembentukan kalimat formal atau sopan yang menggunakan kata “anda.” Serta pembentukan kalimat informal yang menggunakan kata “kau”. Pertanyaannya mengapa ini begitu penting untukku. Jawaban yang bisa kuberikan adalah karena ceritaku sendiri, merupakan kisah tentang remaja yang berusaha berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Jadi dalam berinteraksi tersebut, dia bertemu banyak orang tidak peduli yang sebaya maupun dewasa. Nah kata “anda” dan “kau” disini berperan untuk menunjukkan perbedaan interaksinya antara dengan teman sebaya yang informal. Dan interaksi dengan orang dewasa yang secara sopan santun harus menggunakan kalimat formal.

Saat aku akhirnya curhat masalah ini ke chatgpt, jawabannya ternyata sedikit banyak sesuai dengan perkiraanku. Kata chatgpt, dalam bahasa inggris terjemahan untuk kata kau, kamu, dan anda itu sama. Yaitu “you.” Dalam penjelasannya lebih lanjut, chatgpt juga menegaskan dalam percakapan bahasa inggris tidak peduli dia orang tua, bos, atau bahkan adik. Tidak ada kata khusus dalam menggantikan fungsi kata “you” tersebut.

Saat aku bertanya lagi mengenai bagaimana jalan keluar mengenai ini. Chatgpt menjawab “aku bisa saja mengakali masalah ini dengan beberapa cara seperti. Pemilihan kata dan gaya kalimat, sikap tubuh dan nada bicara, serta penggunaan kata sapaan.” Karena sikap tubuh dan nada bicara bisa diakali dengan menambahi beberapa kalimat atau tanda baca. Maka aku akan langsung ke pemilihan kata dan gaya kalimatnya saja.

Chatgpt memberikan saran supaya pembaca bahasa inggris tetap merasakan itu kalimat formal dan informal adalah sebagai berikut. “Gunakan kalimat yang lebih panjang atau tambahan kata macam “Please,” “would you,” “sir/ma’am,” atau tambahan panggilan hormat lainnya.” Contohnya, “Hey, can you explain that again?” untuk teman sebaya yang informal. Dan “Would you mind explaining it again, Sir?” untuk orang muda yang berbicara kepada orang dewasa, dengan kata lain kalimat formal.

Dari penjelasan dan contoh diatas sih kelihatannya masalah ini bisa cukup mudah dipahami. Namun apakah dalam prakteknya juga semudah itu? Jawabanku sih enggak semudah itu ya karena selain google translate masih agak rancu mengenai penerjemahan kalimat untuk formal dan informal. Google translate ini juga punya masalah lainnya lagi yang cukup merepotkan. Dan masalahnya adalah kadang-kadang kalau semakin banyak dan panjang kalimat yang diterjemahkan. Maka biasanya terjemahannya agak aneh dan tidak jarang keluar dari inti makna dari suatu kalimat.

Sebenarnya masih ada beberapa yang bisa dibahas dan cukup bersangkutan dengan topik diatas. Namun berhubung baru masalah-masalah ini saja yang kurasa cukup merepotkan dalam proses peralihan bahasa novelku. Maka mungkin aku akhiri saja ketikan ini.

Jadi, terima kasih bagi yang sudah membaca dan sampai jumpa di ketikan selanjutnya. 

Suwungkiawan
Suwungkiawan Blognya pengetik yang suka buat cerita saat gabut. Dah itu aja.

Posting Komentar untuk "Aku mencoba menerjemahkan cerita novelku ke bahasa inggris"